Persembahan Dari Hati

Wednesday, June 08, 2005
Dedicated für my friend..

Patah Hati


Kala sebongkah mutiara melingkup di jantung
Matahari berkilau memancarkan cahayanya
Mengalirkan panas
Mencerahkan hati yang telah lama beku
Memberikan kesegaran bagi jiwa yang telah lama mati

Nyanyian burung terdengar sangat merdu
Membuat pintu hati terbuka
Angin mengajak bersenandung riang
Kelabu jiwapun sirna
Cahaya hati bersinar terang penuh pesona

Saat tiba di ujung hari
Sinar matahari itu harus pergi
meninggalkan kepedihan yang teramat dalam
dan luka di jiwa
Haruskah hati layu untuk kemudian beku lagi .........

 

Mei 2005.. dibuat berdasarkan request dari teman

 

 



by Z-Theena at 09:09 am
Comments (3)

Tuesday, June 07, 2005
Kisah Sepasang Merpati

Sepasang merpati putih pulang dari perjalanan menapak sorga..
Dan ketika sampai di persimpangan, merekapun berpisah
mengambil jalan masing-masing..

A sad conclusion indeed to a memorable event..
(Suatu akhir memilukan bagi peristiwa yang menimbulkan kenangan)

Für someone.. (temanku yang lagi sedih dan baru saja 'ditinggalkan..')

 


by Z-Theena at 11:39 pm
Make a comment

Angin, Aku Kehilanganmu

Dingin masih saja menggigit
Kurapatkan jaketku berharap hangatnya menyelubungiku
Namun tiupan angin itu begitu keras memburuku

Aku bertahan dalam dinginku
Tubuhku nyaris lunglai diterpa badaimu
Luluh lantak dan hancur berkeping keping terkena panahmu

Aku terus berjalan dalam dingin
Telah terbiasa dengan iramamu
Tanpa kusadari hadirmu kini menyejukkan paruku

Senin kemarin hawa berganti
Dingin tak lagi datang
Matahari begitu serakah membakar kulitku

Aku mencarimu dalam terik
Kemana gerangan kau yang selama ini setia menyapaku
Aku kehilangan sejukmu




by Z-Theena at 06:42 am
Comments (2)

Sunday, June 05, 2005
Siapa dapat menghalangi burung pipit untuk bernyanyi

On Laws, Kahlil Gibran 

Seorang Ahli Hukum menyusul bertanya:
Dan bagaimana tentang Undang-undang kita?

Dijawabnya:
Kalian senang meletakkan perundang-undangan,
Namun lebih senang lagi melakukan pelanggaran.

Bagaikan kanak-kanak yang asyik bermain di tepi pantai
Yang penuh kesungguhan menyusun pasir jadi menara
Kemudian menghancurkannya sendiri, sambil gelak tertawa ria.

Tapi, selama kau sedang sibuk menyusun menara pasirmu
Sang Laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ke tepi,
Dan pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu
Sang Laut pun turut tertawa bersamamu.
Sesungguhnyalah, Samudra senantiasa ikut tertawa
Bersama mereka yang tanpa dosa.

Tapi bagaimanakah mereka,
yang menganggap kehidupan bukan sebagai samudra,
Dan melihat undang-undang buatannya sendiri,
bukan sebagai menara pasir?
Merekalah yang memandang kehidupan laksana sebungkal batu karang,
Dan undang-undang menjadi pahatnya,
untuk memberinya bentuk ukiran,
Menurut selera manusia, sesuai hasrat kemauan?

Bagaimana dia, si pincang yang membenci para penari?

Bagaimana pula kerbau yang menyukai bebannya,
Dan mencemooh kijang, menjangan, menamakannya hewan liar tiada guna?

Lalu betapa ular tua, yang tak dapat lagi menukar kulitnya,
Dan karenanya menyebut semua ular lain telanjang, tak kenal susila?

Ada lagi dia, yang paling pagi mendatangi pesta,
suatu peralatan perkawinan,
Kemudian setelah terlalu kenyang perutnya,
dengan badan letih kecapaian,
Meninggalkan keramaian dengan umpatan,
Menyatakan segala pesta sebagai pelanggaran,
Dan semua peserta pelanggar hukum belaka.

Apalah yang akan kukatakan tentang mereka,
Kecuali bahwa mereka memang berdiri di bawah sinar mentari
Namun berpaling wajah, dan punggung mereka membelakangi?

Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,
Dan bayangan itulah menjadi undang-undangnya.

Apakah arti Sang Surya bagi mereka, selain sebuah pelempar bayangan?
Dan apakah kepatuhan hukum baginya,
Selain terbongkok dan melata di atas tanah,
Mencari dan menelusuri bayangan sendiri?

Tapi kau, yang berjalan menghadapkan wajah ke arah matahari,
Bayangan apa di atas tanah, yang dapat menahanmu?

Kau yang mengembara di atas angin,
kincir mana yang mampu memerintahkan arah perjalananmu
Hukum mana yang mengikatmu, bila kaupatahkan pikulanmu,
Tanpa memukulkannya pada pintu penjara orang lain?

Hukum apa yang kautakuti, jikalau kau menari-nari,
Tanpa kakimu tersandung belenggu orang lain?
Dan siapakah dia yang dapat menuntutmu,
Bila kau mencampakkan pakaianmu,
Tanpa melemparkannya di jalan orang lain?

Rakyat Orphalese, kalian mungkin mampu membungkam genderang,
Dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,
Namun katakan siapakah yang dapat menghalangi,
Burung pipit untuk bernyanyi?


by Z-Theena at 07:54 am
Comments (2)

Saturday, June 04, 2005
Fur Kids..


by Z-Theena at 07:21 am
Make a comment

Previous Page Next Page
Profile

Tina, Ulm Germany
zeventina@gmail.com
YM: Zeventina


Check Out

My Journey, Deutsch, Warum Nicht?, My Poems, My Novel, My Chacha, My Photo



Tag Board


   




Calendar


<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


Counter



This is my Google PageRank™ - SmE Rank free service Powered by Scriptme


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:


rss feed


Blogdrive